Archive for the 'Selainnya …' Category

25
Jan
10

Shinchan Ending ..

Shinchan Ending

Entah kenapa gw suka banget ama lagu ini. Sebenernya siapa yang nyanyi gw ga tahu, orang lagu ini gw cut dari video-nya Shinchan. Yang bikin lagu ini unik adalah nadanya lucu, terutama yang diawal-awalnya, tapi kalo luw ngerti isi lagunya (liriknya), liriknya itu romantis. Jadi, yaa githu deh .. asik lah pokoknya … Ntar gw posting deh lirik n translate-nya … 😀

25
Jan
10

Utada Hikaru – Automatic

Ini salah satu lagu favorit gw. Apa yang enak dari lagu ini? Kalo buat gw sih musiknya asyik banget, enak buat gerak-gerakin badan alias nge-dance. Selain itu, kalo ngelihat Utada Hikaru live in concert rasanya gimanaaa githu. Abisnya gw suka banget sih ama dia …. 😀 Anyway, I enjoy this music, hope u enjoy it too … 😉

11
Jan
10

efek terlalu sering menulis puisi …

Menjadi seseorang yang ‘pandai’ menulis puisi, tidak serta merta membuat kita mengemukakan segala sesuatu dengan puitik. Menjadi seseorang yang ‘bisa’ menulis puisi, tidak serta merta membuat kita melulu mengetik status di fesbuk yang isinya adalah puisi, atau kata-kata yang diungkapkan dengan puitik. Menjadi seseorang yang ‘berbakat’ dalam puisi, tidak serta merta membuat kita memandang setiap karya secara perfect lalu mengesampingkan sisi-sisi estetikanya. Menjadi seseorang yang dikatakan ‘ahli’ menulis puisi, tidak serta merta membuat kita merasa bahwa setiap puisi yang tidak memenangkan sayembara atau tidak diterima di media adalah puisi yang tak layak. Menjadi seseorang yang ‘jatuh cinta’ pada puisi, tidak serta merta membuat kita kehilangan selera humor. Menjadi seseorang yang ‘melulu’ kerjanya menulis puisi, tidak serta merta membuat kita jadi ‘mellow’ setiap saat. 😀

Ada hal yang cukup menggelikan ketika seseorang sudah teramat ‘akut’ dengan puisi. Mereka yang biasanya mengatakan sesuatu dengan sederhana dan mudah dicerna, tiba-tiba jadi suka mengungkapkannya dengan kata-kata ‘rumit’ atau diksi atau kiasan. Ada juga yang lebay, yaitu dengan memuji-muji sesuatu atau seseorang dengan kata-kata puitik. Ada juga yang seharusnya menulis surat resmi, tapi malah banyak disisipi kata-kata puitik. Ya, macam-macam. 😀

Satu hal yang baru saja gua alami, tadi sehabis sholat shubuh, gw kan berdoa. Nah, yang biasanya gw bilang, “Ya Allah, ampunilah hamba!” tadi malah berubah jadi “Ya Allah, ampunilah SUARA hamba!” 😀 Yaelah, kenapa harus SUARA gw yang dimintai ampun? Terus gw nya sendiri gimana? Dasar. Lama-lama gw bisa bilang, “Ya Allah, ampunilah PUISI-PUISI hamba!” 😀

09
Dec
09

perempuan itu bernama Mawar ….

Aku sedang membaca halaman-halaman awal novel The Host karya Stephenie Meyer di BNI ketika perempuan itu muncul dan berkata, “Ibu boleh duduk di sini?” Aku mengangguk. Dan ia pun duduk di sebelah kananku. Sambil terus membaca, aku perhatikan perempuan itu. Dia sudah renta. Lebih pantas kupanggil nenek. Kulit mukanya yang dikuasai keriput itu dilingkupi kerudung pink. Bajunya juga pink.

“Aa sendirian?” katanya. Aku mengangguk lalu balas bertanya, “Ibu mau ke mana?” “Cibanteng,” jawabnya. Lalu ia pun mulai menceritakan padaku bahwa ia sebenarnya ada janji dengan anaknya–perempuan–di sekitar perempatan. Katanya anaknya itu janji menjemputnya. Dia tinggal di Cibeureum. Tapi anaknya itu tak muncul juga. Aku mendengarkannya bercerita sambil terus membaca novel. Sesekali aku tersenyum.

Sejenak ia diam. Aku masih saja tertunduk membaca kalimat-kalimat berat si Stephenie Meyer. Novel ini membutuhkan konsentrasi untuk bisa memahami apa yang diceritakan. Tiba-tiba saja perempuan renta itu bertanya, “Aa punya uang, Aa?” Aku refleks menengoknya dan tersenyum. “Berapa, Bu?” “Berapa saja,” jawabnya. Masih dengan senyum tersungging kuambil dompet dari saku belakang jeans. Dia tampak memperhatikan tanganku yang memilih-milih lembaran uang. “Ibu kehabisan uang untuk ongkos?” tanyaku. Dia mengangguk. Maka aku pun memberikannya tiga lembar uang seribuan. “Wah, banyak sekali,” katanya. Ia berusaha mengembalkan sebagian tapi kutolak. Kukatakan padanya itu rasanya cukup untuk ongkos ke Cibanteng. Maka ia pun mulai menanyakan namaku. “Ardy,” jawabku. Lalu ia pun menanyakan nama ayahku. Ia mulai bicara tentang mendoakanku dari rumah. Entah doa macam apa. Aku bilang itu tidak perlu. Tapi ia seperti tak menanggapi perkataanku. Singkatnya saat itu juga ia mendoakan beberapa hal untuk kebaikanku.

Sebelum pergi, ia sempat bercerita tentang anak perempuannya yang belum menikah. Dia bilang kalau anaknya itu sangat hati-hati dalam memilih laki-laki. “Yang suka sama dia banyak, Aa,” aku perempuan itu. “Yang namanya orang tua perempuan itu ingin segera anaknya menikah,” lanjutnya, “khawatir karena ini itu.” Lalu ia tiba-tiba saja menyuruhku berhati-hati dalam memilih perempuan. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah menanyakan jam dan kukatakan sudah hampir jam enam, perempuan itu pamit. Anehnya dia bilang tak akan pulang ke Cibanteng, tapi ke Cangkurawok saja. Aku heran tapi tak kutanyakan mengapa begitu. “Nama ibu Mawar,” katanya saat kami bersalaman. Lalu ia pun berjalan pergi. Sebelum mencapai pagar dia menyapa seorang perempuan. Aku tak tahu apa yang dikatakannya. Perempuan itu menanggapi Bu Mawar dengan ekspresi enggan. Setelah Bu Mawar menjauh, perempuan itu menatapku sejenak.

Aku perhatikan perempuan itu menjauh. Ada sesuatu yang mengusikku. Ke mana ia akan pergi? Apakah semua yang diceritakannya itu benar? Aku pernah mengalami hal seperti ini dulu di Cianjur, tapi ini lebih aneh. Tadi pun sebenarnya ketika ia bercerita ke sana kemari aku sungguh berhati-hati. Aku hanya tidak ingin terjebak dalam hipnotis. Lucu juga. Bisa-bisanya aku menaruh curiga pada seorang perempuan tua. Ya, terlepas dari benar atau tidaknya semua perkataannya itu, aku berharap uang yang hanya tiga ribu itu digunakan untuk sesuatu yang baik. Apakah aku sudah diakali? Tadi bahkan perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Mawar ini sempat bertanya apakah besok aku akan ke sini lagi. Aku bilang aku tidak tahu. Sungguh aneh perempuan tua ini, membuatku jadi bertanya-tanya tentang banyak hal. Tapi kubiarkan ia pergi. Tak apalah seandainya aku kena tipu. Aku ikhlas.***

Bogor, 9 Desember 2009

09
Dec
09

Prita, Media Massa, dan Hati Nurani …

Ketika hukum dan keadilan menjadi sesuatu yang tidak kita pahami, beruntunglah media massa kita masih memiliki hati nurani. Salah satu bukti nyatanya adalah pada kasus Prita vs RS Omni. Di berbagai media massa baik itu cetak maupun elektronik, kasus ini selalu dibahas dengan cara yang menggugah hati. Pada awalnya mungkin di antara pembaca banyak yang bertanya, “Siapa yang salah pada kasus Prita vs RS Omni?” Tapi sekarang, pertanyaan itu tak penting lagi, karena kita dengan sendirinya memilih siapa pihak yang dirugikan dengan hati, bukan dengan poin-poin hukum.

Maka bermunculanlah berbagai macam reaksi dari masyarakat yang tentu saja menilai Prita sebagai pihak yang dianiaya sistem hukum Indonesia, mulai dari status-status di facebook sampai artikel-artikel di blog, puncaknya adalah terealisasinya Koin Peduli Prita. Koin-koin ini adalah cara unik dan nyata yang dilakukan masyarakat untuk membantu Prita melunasi denda yang dijatuhkan kepadanya sebesar Rp. 204 juta. Dengan berasumsi bahwa masyarakat Indonesia masih banyak yang memelihara hati nuraninya, maka dengan adanya Koin Peduli Prita ini, melunasi denda itu bukan lagi sebuah Mission Impossible. Tapi jangan salah interpretasi, antusiasme tinggi masyarakat terhadap Koin Peduli Prita ini bukan berarti mereka membenarkan sistem hukum Indonesia. Ini hanya suatu bentuk kepedulian. Tentu saja, masyarakat akan sangat lega jika Prita tidak harus membayar denda.

Ada yang menarik sebenarnya dari kasus ini. Prita yang menyebarkan surat elektronik (email) kepada teman-temannya tentang ketidakpuasannya terhadap pelayanan RS Omni, pada awalnya dituntut untuk membayar Rp. 300 Milyar karena dianggap mencemarkan nama baik RS Omni. Bayangkan, Rp. 300 Milyar, jumlah yang mengada-ada, bukan? Bahkan sebuah negara pun, tak akan mau membayar sebesar itu untuk kasus pencemaran nama baik. Indikasi kasus ini berkembang di luar akal sehat sudah bisa dilihat dari sini. Mungkin sebenarnya itu taktik RS Omni agar mendapatkan ganti rugi dalam jumlah yang besar. Meskipun pada akhirnya denda yang diputuskan pengadilan jauh lebih kecil daripada yang diajukan, tetap saja Rp. 204 juta itu jumlah yang besar. Bahkan sebuah perusahaan pun, belum tentu mau membayar denda sebesar ini, apalagi perorangan. Dengan mengajukan tuntutan ganti rugi sebesar Rp. 300 Milyar, sebenarnya pihak RS Omni dengan sendirinya membuat masyarakat menilai mereka tidak punya hati nurani.

Mungkin akan berbeda jika kasus ini dibicarakan secara kekeluargaan antara kedua belah pihak. Pihak RS Omni mungkin pada awalnya khawatir keluhan-keluhan Prita yang menyebar di internet itu membawa dampak buruk terhadap kredibilitas RS itu di masyarakat. Tapi justru dengan membawa kasus ini ke pengadilan dan dengan tuntutan di luar akal sehat, ini tidak membantu mereka memperbaiki diri, melainkan menghancurkan kredibilitasnya sendiri. Saya rasa wajar jika seorang konsumen mengeluh karena pelayanan yang diterimanya menurutnya kurang baik. Untuk mengatasi hal ini, seharusnya pihak RS Omni merangkul konsumennya itu dengan memberikan penjelasan yang masuk akal, atau akan lebih baik jika memperbaiki kualitas pelayanannya. Dengan berlarut-larut dalam kasus ini, mereka sudah membuang banyak waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengoptimalkan kerja rumah sakit.

Sekali lagi, media massa menyuguhkan perkembangan kasus ini dengan cara yang menggugah hati, sehingga sesuatu dalam diri kita yang bernama hati nurani membuat kita tergerak untuk memberi dukungan baik moril maupun finansial kepada Prita. Untuk hal yang satu ini kita sebagai pembaca harus bangga dengan media massa kita yang kritis terhadap ketidakwajaran yang ada. Hukum yang dilakukan sesuai prosedur seharusnya membuat kehidupan menjadi lebih baik. Kasus Prita vs RS Omni hanya satu di antara banyak kasus yang membuat kita trenyuh. Mungkin perlu ditinjau kembali kesesuaian Undang-undang ITE yang saat ini berlaku agar tidak terjadi lagi fenomena seperti ini di mana hukum dan hati nurani bergerak ke arah yang berlawanan. Dan jangan sekali-sekali mengatakan bahwa bersimpati terhadap Prita adalah bentuk ketidaktahuan terhadap hukum. Ini hanya satu bentuk kepedulian manusia terhadap manusia lainnya.

Ardy Kresna Crenata

04
Dec
09

Lagu Pengantar Tidur ..

Terkait dengan artikel berjudul Insomnia yang baru-baru ini gw posting, ada sebuah lagu dari Nana Kitade yang berjudul Utareru Ame (The Pounding Rain) yang mungkin bias menjadi solusi. Lagu ini aslinya rada ngerock dan gw suka denger lagu ini kalo lagi butuh spirit buat mengejar sesuatu. Tapi ternyata ada juga versi mellow-nya. Liriknya sama, hanya musiknya saja yang dibuat sendu. Yang tadinya lagu ini bikin semangat, eh malah jadi bikin ngantuk. Hahaha …. 🙂

Bagaimana bisa sebuah lagu rock jadi lagu pengantar tidur? Ini kerjaan musisi hebat. Gw pengen kalian nyoba denger lagu ini kaya apa, tapi versi mellow-nya saja. Jangan khawatir soal kendala bahasa, karena sudah gw sertakan lirik dan terjemahannya. Muda-mudahan saja lagu ini bisa menjadi pengantar tidur bagi mereka yang sering kena insomnia. Hehehe ….. Gw belum nyoba kalo malem-malem, tapi pas dengerin lagu ini terus-terusan di siang-siang kaya gini, kok jadi ngantuk. :-:

Anyway, lagu beserta lirik dan terjemahannya bisa didownload di sini.

04
Dec
09

insomnia …

Kalau sudah waktunya insomnia datang, bisa sampai pagi mata dipejamkan tapi tetap tak bisa tidur. Apa sih sebenarnya yang menyebabkan seseorang terkena insomnia? Apa itu semacam penyakit kambuhan? Toh kita suka susah tidur di suatu waktu, tapi di suatu waktu lain malah susah bangun. 🙂 Dari sebuah sumber yang bisa dilihat di sini, dikatakan bahwa insomnia biasanya disebabkan oleh gangguan di dalam waktu dan mekanisme tidur.

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang terkena insomnia, di antaranya:
1. Masalah psikis yang terganggu, stress karena berbagai masalah.
2. Memiliki penyakit yang memang dapat mengganggu tubuh seperti asma, demam dan lain-lain.
3. Lingkungan tempat tinggal yang mengganggu.
4. Mempunyai kebiasaan buruk seperti minum minuman keras atau kopi menjelang tidur.
5. Menggunakan ranjang untuk kegiatan lain seperti bekerja, membaca buku. Sebaiknya gunakan ranjang hanya untuk tidur

Poin kelima cukup unik. Sebaiknya ranjang hanya digunakan untuk tidur. Mungkin kalau kita terbiasa melakukan pekerjaan di ranjang, ranjang itu lama-lama jadi kehilangan daya kantuk. Hehehehe ….. Oh ya, ada kecenderungan bahwa wanita lebih mudah terkena insomnia. Mengapa? Apakah wanita lebih mudah mengalami stress?

Bagaimanapun insomnia itu bukan sesuatu yang bagus. Memang dengan insomnia itu kita jadi punya lebih banyak waktu untuk berkreasi. Tapi buruk bagi kesehatan. Di situs sumber informasi ini, dicantumkan pula beberapa tips untuk mengatasi insomnia, yaitu:
1. Olahraga
2. Mendengarkan lagu yang menenangkan
3. Hindari makan dan minum dalam jumlah banyak sebelum tidur. Tapi akan baik jika sedikit mengkonsumsi makanan ringan yang mengandung karbohidrat.
4. Buatlah lingkungan nyaman untuk tidur.
5. Usahakan punya waktu tidur teratur.
6. Hentikan penggunaan obat-obatan yang bekerja pada susunan saraf pusat
7. Hindari tidur siang
8. Makan pada waktu yang teratur setiap hari
9. Lakukan relaksasi otot pada malam hari
10. Pertahankan posisi tidur yang nyaman.

Itulah tips yang bisa dicoba untuk kalian yang sering didatangi insomnia. Semoga saja ampuh yah …. :-).




Ore no Genjutsu ….

A place where you can find the words talk to you ...
Blog ini berisi karya-karya sastra seperti puisi, novel, cerpen, dan hal-hal sepele yang nggak penting .... ^_^. Untuk keterangan lebih lanjut klik menu "home".

Berkas …

Tanggal berapakah sekarang?

July 2017
M T W T F S S
« Jul    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Jumlah KorbaN

  • 62,440 jiwa