10
Nov
09

SURAT UNTUK MBAK MER

Setelah sekian lama akhirnya aku bisa juga menulis cerpen lagi. Cerpenku yang terakhir kubuat di tahun 2000 atau 2001. Aku tak benar-benar ingat. Di blog ini tak akan aku tampilkan semuanya karena terlalu memakan tempat. Tapi kalian bisa mendownloadnya di sini.
Berikut ini kuposting sebagian.

SURAT UNTUK MBAK MER
Cerpen Ardy Kresna Crenata

AKU SUDAH MENCOBANYA BERULANG KALI. Menimpakan kata-kata pada kertas kosong itu. Membiarkan dingin malam merangkulku erat. Membiarkan kantuk memenuhi ruang sempit ini. Tapi suratku untuknya belum juga selesai. Lelah.
Lagi-lagi selembar kertas kulempar ke tempat sampah. Aku bingung. Aku tak tahu apa yang sebenarnya harus kutulis. Besok kabarnya ia akan pergi dan entah kapan akan kembali ke desa ini. Belum juga ia pergi, aku sudah rindu. Kulihat jarum jam menunjuk angka sepuluh. Sudah larut. Sudah cukup larut untuk anak usia SD sepertiku. Ibu pasti ngomel-ngomel melihatku masih saja di meja belajar.
Benar saja. Ibu membuka pintu kamarku dan masuk tanpa permisi. Sudah biasa. Mungkin ia ingin tahu hal-hal yang aku sembunyikan. Tapi untung saja aku kini sudah berbaring, mendekap guling dan berpura-pura tidur. Tadi aku sempat mendengar langkah kaki mendekat. Refleks saja kertas-kertas dan pulpen itu kusembunyikan di lipatan buku. Dan segera saja menghambur ke tempat tidur.
Ibu sudah pergi. Tak ada lagi langkah kaki. Aku kembali ke meja belajar, mengambil pulpen dan kertas yang masih kosong itu dan mulai berpikir. Satu menit. Dua menit. Tiga menit berlalu tanpa satu kata pun. Kulihat lagi jam dinding. Sudah setengah sebelas. Aku harus segera menyelesaikan surat ini sebelum kantuk mulai memaksaku tidur. Lagipula besok hari Senin: Upacara bendera.

***

BEL pulang baru saja dibunyikan. Teman-temanku satu per satu meninggalkan kelas. Aku masih duduk, masih saja memeriksa apakah surat itu aku bawa atau tidak. Ada. Untunglah. Kuperiksa isinya pun masih utuh. Segera saja aku berlari membiarkan kursi dan mejaku begitu saja.
“Piket dulu, Arya!” kata Rini yang sedang menyapu lantai.
“Iya. Beresin dulu nih kursi-kursi!” sambung Bayu yang kini menyimpan kursi di atas meja.
“Bentar deh ya,” jawabku. “Ada perlu dulu. Nanti juga balik lagi kok.”
“Awas ya kalau nggak,” ujar Shima memberiku telunjuk.
“Ya,” jawabku tersenyum.
Aku pun pergi meninggalkan mereka bertiga. Jam segini lumayan terik. Matahari masih betah di atas sana. Sesampainya di gerbang aku langsung berlari ke timur. Rumah Mbak Mer tak jauh. Jika berlari, tujuh menit sudah sampai. Mungkin lebih. Meskipun aku sedikit lelah karena tak sempat makan pagi dan sialnya lupa membawa uang sehingga istirahat tadi tak membeli apa-apa, aku memaksa terus berlari. Deru mesin sesekali mendahului. Angin datang mengepulkan debu. Kotor. Panas. Tapi surat ini harus segera kuberikan.
***


0 Responses to “SURAT UNTUK MBAK MER”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Ore no Genjutsu ….

A place where you can find the words talk to you ...
Blog ini berisi karya-karya sastra seperti puisi, novel, cerpen, dan hal-hal sepele yang nggak penting .... ^_^. Untuk keterangan lebih lanjut klik menu "home".

Berkas …

Tanggal berapakah sekarang?

November 2009
M T W T F S S
    Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Jumlah KorbaN

  • 61,592 jiwa

%d bloggers like this: